Ada yang Baru untuk yang Lama

Standard

(sebelum membaca, ada baiknya sembari memutar lagu ini lewat spotify atau soundcloud)

Ada yang baru di akhir tahun ini, yang dipersembahkan oleh Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional. Lebih tepatnya saat wisuda Bulan September yang lalu. Baru kali ini, untuk mereka yang diwisuda diselenggarakan acara khusus. Yakni acara pelepasan untuk para wisudawan.

Acara ini digawangi oleh rekan-rekan Divisi Internal HIMAHI. Namun antusias dan kehadiran anggota divisi-divisi dan saudara-saudara lain meski tidak tergabung dalam kepengurusan, sungguh mengharukan.

Pelepasan ini tak sekadar sebuah perayaan. Pelepasan ini sebagai wujud untuk turut mensyukuri atas pencapaian saudara-saudara yang kini menyandang gelar S.Hub.Int. Melepas Kakak, Mas, Mbak, dan juga rekan-rekan seperjuangan yang dahulu pernah bersama. Yang pernah –dengan segala upaya– menyelenggarakan rangkaian penyambutan bagi mahasiswa baru. Kami akrab menyapanya, IRFEST. Mereka yang pernah bersama-sama mengupayakan acara angkatan maupun himpunan. Dan kini mereka disambut kembali untuk bersiap mengarungi kehidupan pasca kampus.

Senang sekaligus sedih. Senang, karena turut berbahagia atas pencapaian dan perjuangan mereka selama empat tahun (ada juga yang lebih) akhirnya menemui batasnya. Genap dan tuntas sudah perjuangan mereka untuk menempuh studi strata satu. Sedih, karena harus berpisah. Kini masing-masing dari mereka mengupayakan cita-cita yang lain. Dan memang seharusnya demikian.

Mengharukan dan juga salut atas kesediaan rekan-rekan dan adik-adik untuk hadir, meski siang itu mendung menggelantung dan hampir-hampir hujan. Mungkin acara ini –bagi sebagian– tak seberapa penting. Toh keriaan ini akan berakhir setelah para wisudawan pulang. Bagi yang masih menyandang status mahasiswa pun –termasuk saya– kehidupan akan kembali berjalan seperti biasanya. Adakah yang istimewa dari pelepasan ini?

Tentu saja istimewa. Kehadiran dan kesediaan mereka untuk menyempatkan waktu, sungguh berharga. Yaa, menurut saya ini wujud kolektivitas. Menjaga dan menyulam kekerabatan. Saling memiliki dan membersamai sebuah keluarga. Meski toh setelah ini, masing-masing dari kita kembali pada rutinitas masing-masing. Kalaupun kegiatan semacam ini tak berfaedah, bisa dievaluasi kembali. Namun jika nyatanya dirasa perlu, dapat diupayakan sebagai tradisi. Untuk turut mensyukuri pencapaian.

Terlepas apakah acara seperti ini akan berlanjut, saya patut mengucapkan terima kasih dan salut untuk HIMAHI terkhusus Divisi Internal, rekan-rekan saudara-saudara dulur-dulur hiuatlas, hanya di 2014, HI 2015, (meski belum mengenal bisa jadi ada 2016, haha). Tetap semangat berjurnal-ria, semangat mengupayakan proker-proker hingga akhir kepengurusan tahun ini. Selamat dan semangat untuk tetap berproses (dan berproges) meski penuh perjuangan. Dan hiraukan mereka yang berkomentar dan melontarkan kritik namun tak memberi solusi. Salut atas kesediaan kalian untuk mencintai dan merawat himpunan.

Untuk kalian saudara-saudara (rongewu12 dan sebelumnya) yang kini bergelar S. Hub. Int., selamat mengupayakan cita-cita baik lainnya. Semoga barokah manfaat ilmunya dan senantiasa Diridhoi Tuhan. Doakan kami yang masih berjuang disini untuk bisa segera menyusul kalian. Salaam🙂

Rumah. Selasa, 2 November 2016

Membersamai Ketidaksempurnaan

Standard
Processed with VSCO with kk2 preset

Foto diambil pada 22 Oktober 2016, di Aula Soetandyo Wignjosoebroto FISIP Unair

Sorak-sorai dalam perjalanan dini hari,

mungkin menyisakan jejaknya yang terpatri.

Hingga dinyatakan hitam di atas putih

Meski konon masih tak pasti

 

Namun patut dikenang,

Semesta dan hutan berpendar mengajarkan banyak kisah

Tentang kehangatan dan kekerabatan

Tentang saling memiliki dan membersamai

 

Perlukah kembali diupayakan?

 

Kali ini

Tak ada gaun yang berenda-renda

Tak ada suara yang bertalun-talun

Tak ada tenda dan juga unggun

 

Kali ini yang ada

Teriknya Surabaya, gedung dan aspal, dan abu berwarna

Tentu masih tersampaikan makna dan cerita

Untuk tetap bersama, meski berbeda citarasa

 

Tak mengapa,

apakah itu berenda, bertalun, atau Surabaya

tiap masa, senantiasa berdinamika

bukan soal salah siapa

bukan berebut pengakuan paling sempurna

 

Nyatanya,

Ketidaksempurnaan itu meleburkan ego.

Ketidaksempurnaan itu bukan alasan,

atas ketidakhadiran dan menjumpai penerimaan

 

Hhh…

Hampir saja meredupkan banyak asa

Tapi kemudian kembali menyala

Dengan saling menguatkan dan percaya

 

Aduhai

Raja dan punggawa tanpa punakawan, mau apa?

Apalagi tanpa rakyatnya, punya apa?

 

Lokomotif tanpa roda bukan apa-apa

Lokomotif beroda, tanpa gerbong mau kemana?

Kesemuanya saling mengisi, demi melajunya sebuah kereta

 

Yang di depan memberikan lentera

Bukan sok kuasa, tapi karena cinta

Yang di belakang menggenggam pundak

Bukan tak bisa, tapi karena percaya

 

Yang renta, akan sampai pada batasnya

Namun, salahkah berbagi cerita?

Adakah frasa ‘terlalu renta’ untuk membersamai keluarga?

 

Yang muda, berjuang atas keterbatasannya

Namun, salahkah mengupayakan cita-cita?

Adakah frasa ‘masih muda’ untuk membesarkan keluarga?

 

Masing-masing dari kita beridentitas angka

Dan setiap angka punya makna dan cerita

Silang pendapat ialah niscaya

Saling beradu makna

 

Namun,

bukan berarti tak saling menyapa

bukan berarti tak bisa duduk bersama

bukan berarti tak bisa bercengkrama

 

Mari sama-sama membaktikan

Untuk menghamba pada Tuhan,

Mengabdi dan berkarya untuk bangsa,

Mencintai dan merawat himpunan

 

Selamat berproses dan berprogres

 

 

Rumah. Jumat, 21 Oktober 2016

Kerupawanan Prasangka

Standard

Seorang kawan berkisah sesuatu, tentang pertemuannya dengan seseorang di rumah ibadah.

Kira-kira demikian.

Malam ini entah bagaimana ceritanya, ia Dipertemukan dengan seseorang yang Diberikan kelebihan rizki perihal kerupawanan. Teduh.

Ia mengatakan ini ‘Dipertemukan’, karena ia meyakini bahwa kebetulan ini ada untuk Direncanakan.

Ada ihwal yang ia coba renungkan. Yakni tuntunan dalam menjaga pandangan.

Pandangan dalam hal ini, tak sebatas pandangan mata. Namun juga prasangka.

Ia pun berkata, seperti mengucap sesuatu yang ditujukan pada dirinya sendiri,

“Berbaik-prasangka-lah dan senantiasa mensyukuri atas nikmat penglihatan”. Memang sungguh berat, namun bukan tidak mungkin untuk diupayakan.

Kehampaan Menitipkan Salam

Sumber : ikhsanaura.com
Standard

hampir tigapuluh purnama barangkali

satu sama lain bertukar nama.

namun jarak sejengkal–perjumpaan mungkin baru separuh.

bilamana gusar bersama jengah bertandang,

kehampaan menitipkan salam.

maaf telah terlampau sering berseru pulang.

.

.

.

Rumah. Rabu, 9 Maret 2016

Malam Ini Tidak Seberapa Dingin, Tapi..

Standard

Out of Cave

..tapi aku butuh oven. Atau microwave. Biar barang sejenak bisa kuletakkan hati di dalam ruangnya. Sepuluh detik cukup lah. Sebagaimana mas-mas Sevel dengan sigap menghangatkan Nasi Jago sepuluhribuan.

Malam ini tidak seberapa dingin, sebagaimana malam-malam di kamarku yang lama. Dulu malam-malamku berlangsung cukup panjang. Kalau diibaratkan, aku seperti menggenggam tangan si malam erat-erat, enggan ditinggal. Seorang teman menegur kebiasaan ini, sebab ayat-ayat menyampaikan amanat bahwa malam dicipta untuk beristirahat. Padahal justru aku ingin tetap terbangun agar bisa bersantai merasakan waktu bergulir menuju pagi, dalam kesadaran penuh. Aku ingin berlama-lama duduk bersama Malam. Itu juga adalah bentuk ‘istirahat’. Kan?

Malam ini cenderung sumuk, tapi hatiku tetap butuh penghangatan. Aku tahu tidak banyak telinga siap menyimak dan tidak juga lisan cakap berujar. Ah, tapi sudahlah. Aku sudah tahu kemana harus(nya) mencari, dan bahwa yang mencari insyaaallah akan menemukan.

🙂

View original post

Menanti Kepulangan

Standard

Bahkan belum genap tigapuluh hitungan. Sudah hampir habis teguh akan sejumput rindu. Ada ruang hampa yang tumbuh. Meski sesekali bersapa dalam jaringan seluler.

Bahkan aku belum menempuh limaratus kilometer. Banyak di antara mereka yang berjarak seribuan, yang teguh dalam penantian. Atau keteguhan itu sengaja dibuat agar terkesan begitu?

Disini sama-sama sebangun rumah. Namun nyatanya tak sama. Mungkin inilah sejatinya kepulangan yang dirindu mereka yang berjarak dari rumah.

Semoga tidak berbuah kesia-siaan belaka. Semoga tumbuh pemahaman yang baik. Semoga menjadi buah yang ranum. Matang.

dawudkusuma. Bojonegoro. 30 Januari 2016

Nguping Bocah: Kenapa?

Standard

Out of Cave

Di suatu sekolah dasar di daerah urban, enam belas anak-anak berkumpul di satu kelas dan saling berinteraksi. Sebagaimana kelas pada umumnya, ada jadwal spesifik yang sudah disiapkan untuk setiap kegiatan. Ada jam tertentu untuk berhitung, membaca, menulis, mewarnai, makan siang, dan lain-lain. Akan tetapi sebagian anak belum cukup terbiasa dengan model belajar ini. Bagi mereka, sangat mengherankan mengapa harus menahan diri dari melakukan hal yang disenangi untuk sesuatu yang lain.

Seperti ini..

Guru: “Lho Ivan, sekarang waktunya kita mewarnai. Ayo buku ceritanya dimasukkan dulu.”
Ivan: (dengan ekspresi tersinggung dan nada tajam) “Kenapa?”
Guru: (tertegun)

.. Dan kadang, ketika dihadapkan pada anak-anak seperti ini, orang dewasa (untuk sesaat) tergerak untuk bertanya di dalam hati: Iya ya, kenapa? Memangnya kenapa harus?

Pola yang sama pernah kutemui di rumah dari interaksi kakakku dan anaknya yang berusia hampir tiga tahun.

Ibunya: “Lho Biq, kok stikernya ditempel-tempel di situ to?”
Anaknya: “Aku seneng kok.”
Ibunya:…

View original post 37 more words