Kerupawanan Prasangka

Standard

Seorang kawan berkisah sesuatu, tentang pertemuannya dengan seseorang di rumah ibadah.

Kira-kira demikian.

Malam ini entah bagaimana ceritanya, ia Dipertemukan dengan seseorang yang Diberikan kelebihan rizki perihal kerupawanan. Teduh.

Ia mengatakan ini ‘Dipertemukan’, karena ia meyakini bahwa kebetulan ini ada untuk Direncanakan.

Ada ihwal yang ia coba renungkan. Yakni tuntunan dalam menjaga pandangan.

Pandangan dalam hal ini, tak sebatas pandangan mata. Namun juga prasangka.

Ia pun berkata, seperti mengucap sesuatu yang ditujukan pada dirinya sendiri,

“Berbaik-prasangka-lah dan senantiasa mensyukuri atas nikmat penglihatan”. Memang sungguh berat, namun bukan tidak mungkin untuk diupayakan.

Kehampaan Menitipkan Salam

Sumber : ikhsanaura.com
Standard

hampir tigapuluh purnama barangkali

satu sama lain bertukar nama.

namun jarak sejengkal–perjumpaan mungkin baru separuh.

bilamana gusar bersama jengah bertandang,

kehampaan menitipkan salam.

maaf telah terlampau sering berseru pulang.

.

.

.

Rumah. Rabu, 9 Maret 2016

Malam Ini Tidak Seberapa Dingin, Tapi..

Standard

Out of Cave

..tapi aku butuh oven. Atau microwave. Biar barang sejenak bisa kuletakkan hati di dalam ruangnya. Sepuluh detik cukup lah. Sebagaimana mas-mas Sevel dengan sigap menghangatkan Nasi Jago sepuluhribuan.

Malam ini tidak seberapa dingin, sebagaimana malam-malam di kamarku yang lama. Dulu malam-malamku berlangsung cukup panjang. Kalau diibaratkan, aku seperti menggenggam tangan si malam erat-erat, enggan ditinggal. Seorang teman menegur kebiasaan ini, sebab ayat-ayat menyampaikan amanat bahwa malam dicipta untuk beristirahat. Padahal justru aku ingin tetap terbangun agar bisa bersantai merasakan waktu bergulir menuju pagi, dalam kesadaran penuh. Aku ingin berlama-lama duduk bersama Malam. Itu juga adalah bentuk ‘istirahat’. Kan?

Malam ini cenderung sumuk, tapi hatiku tetap butuh penghangatan. Aku tahu tidak banyak telinga siap menyimak dan tidak juga lisan cakap berujar. Ah, tapi sudahlah. Aku sudah tahu kemana harus(nya) mencari, dan bahwa yang mencari insyaaallah akan menemukan.

🙂

View original post

Menanti Kepulangan

Standard

Bahkan belum genap tigapuluh hitungan. Sudah hampir habis teguh akan sejumput rindu. Ada ruang hampa yang tumbuh. Meski sesekali bersapa dalam jaringan seluler.

Bahkan aku belum menempuh limaratus kilometer. Banyak di antara mereka yang berjarak seribuan, yang teguh dalam penantian. Atau keteguhan itu sengaja dibuat agar terkesan begitu?

Disini sama-sama sebangun rumah. Namun nyatanya tak sama. Mungkin inilah sejatinya kepulangan yang dirindu mereka yang berjarak dari rumah.

Semoga tidak berbuah kesia-siaan belaka. Semoga tumbuh pemahaman yang baik. Semoga menjadi buah yang ranum. Matang.

dawudkusuma. Bojonegoro. 30 Januari 2016

Nguping Bocah: Kenapa?

Standard

Out of Cave

Di suatu sekolah dasar di daerah urban, enam belas anak-anak berkumpul di satu kelas dan saling berinteraksi. Sebagaimana kelas pada umumnya, ada jadwal spesifik yang sudah disiapkan untuk setiap kegiatan. Ada jam tertentu untuk berhitung, membaca, menulis, mewarnai, makan siang, dan lain-lain. Akan tetapi sebagian anak belum cukup terbiasa dengan model belajar ini. Bagi mereka, sangat mengherankan mengapa harus menahan diri dari melakukan hal yang disenangi untuk sesuatu yang lain.

Seperti ini..

Guru: “Lho Ivan, sekarang waktunya kita mewarnai. Ayo buku ceritanya dimasukkan dulu.”
Ivan: (dengan ekspresi tersinggung dan nada tajam) “Kenapa?”
Guru: (tertegun)

.. Dan kadang, ketika dihadapkan pada anak-anak seperti ini, orang dewasa (untuk sesaat) tergerak untuk bertanya di dalam hati: Iya ya, kenapa? Memangnya kenapa harus?

Pola yang sama pernah kutemui di rumah dari interaksi kakakku dan anaknya yang berusia hampir tiga tahun.

Ibunya: “Lho Biq, kok stikernya ditempel-tempel di situ to?”
Anaknya: “Aku seneng kok.”
Ibunya:…

View original post 37 more words

Siapa bilang

Standard

Siapa bilang wanita itu selalu identik dengan sifat manja dan lemah?
Siapa bilang pria itu selalu identik dengan sifat kuat dan tangguh?

Coba kau sempatkan bertanya pada ibumu. Seberjuang dan sesakit apa yang dirasa ibumu semasa mengandung dan melahirkan.

Coba kau sempatkan bertanya pada ayahmu. Sehancur dan sekuat apa yang dirasa ayahmu ketika nenekmu tiada. Semasa orang-orang terkasih dan terdekat telah pergi atau disakiti.

dawudkd. Rumah. 22 Desember 2015.